Abii, amii ingin menikah..
Bukan karena amii ingin melakukan hal yang selama ini dilarang oleh agama, tapi amii ingin menikmati pernikahan itu sendiri.
Amii tau tak mudah untuk menjalani sebuah pernikahan, suatu ikatan erat yang tak bisa dimainkan layaknya orang yang berpacaran. Tapi amii inginkan itu, amii ingin menikmati susahnya menjadi seorang istri, mempunyai anak dan mengurus mereka..amii suka akan hal itu dan amii akan menganggapnya sebagai suatu ibadah karena ada tantangan yang harus amii lalui, disamping menjalankan roda rumah tangga juga berkarir untuk diri amii sendiri.
Bukankah abii tau, amii ingin segera menikah. Abii mau tau alasannya? Karena amii merasa bangga menjadi seorang istri sekaligus menyandang status ibu bagi anak-anak amii, melihat perkembangan mereka dari kecil hingga dewasa menaklukkan rasa penat amii setelah sehari bekerja. Mengurus suami yang sangat amii hormati juga amii cintai, memberikannya limpahan cinta dan ingin selalu tampil cantik didepannya. Itulah yang ingin amii lakukakan.
Amii tau ini gak gampang untuk abii, amii tau banyak hal yang abii fikirkan. Tapi terkadang hal itu hanya sebuah keinginan, dimana manusia tak bisa lepas dari rasa puas. Saat keinginan abii telah tercapai, abii pasti menginginkan hal yang lain lagi.
Abii tau sayang??menikah itu ibadah, dengan menikah abii telah menyempurnakan ibadah abii juga agama abii. Menikah bukanlah hal yang paling manakutkan, setidaknya menurut versi amii, karena semua tak akan berbeda, kecuali hidup bersama dengan kewajiban masing-masing.
Abii masih bisa beraktivitas seperti biasa, yang berbeda hanyalah kurangnya waktu luang abii diluar rumah karena ada seorang istri yang menanti abii dirumah, menyediakan segala hal yang abii perlukan.
Amii bisa membayangkan betapa bahagianya dengan keluarga seperti itu. Tak ada paksaan juga tekanan, karena semua didasari dengan rasa sayang juga kebersamaan.
Amii gak bisa sembarangan memilih calon suami yang akan mendampingi amii seumur hidupku.
Satu hal yang perlu abii tau, selama ini amii juga terjebak dalam dua keadaan yang sangat mengganggu fikiran amii, menikah atau berkarir/menuntut ilmu.
Karena jika amii memilih untuk menikah, maka karir amii tak seperti yang amii inginkan, sementara amii juga ingin sukses dalam berkarir dan menuntut ilmu. Kebanyakan mahasiswa belum menikah, dan waktu yang dibutuhkan untuk menuntut ilmu pun tak sebentar
Tapi hasrat amii ini sangat kuat, banyak pro dan kontra akan keinginanku ini, ada yang memberi amii nasehat untuk menyegerakan pernikahan, ada juga yang menyuruh kami untuk berkarir karena usia kami yang terbilang muda, hanya saja menurut amii, usia amii sudah cukup untuk menikah, walaupun masih banyak yang lebih tua usianya dan belum menikah, tapi amii mengkhawatirkan usia ini. Amii juga mengkhawatirkan kesalahan yang akan amii lakukan dalam menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut pacaran.
Menurut amii 1 tahun cukup untuk mengenal karakter masing-masing, dan amii rasa amii telah cukup mengenal abii. Apa fikiran amii ini salah?
Mungkin abii tlah banyak menyusun rencana untuk masa depan kita, amii dukung semua itu, tapi amii tak mau terlalu berencana bii, karena terlalu sakit klo semua itu tak seperti yang kita harapkan, bukankah kita lebih mantap menyusun rencana saat kita sudah menikah? Menyatukan untuk satu tujuan, apa apa saja yang ingin kita raih dan kita miliki.
mungkin banyak hal yang terfikir dikepala abii, seperti memiliki sebuah rumah, kendaraan juga yang lainnya, tapi tidakkah abii tau itu pasti bisa kita dapatkan dan amii yakin kita bisa mewujudkannya bersama-sama.
Mungkin abii adalah penganut faham yang mengatakan belum siap menikah apabila belum mapan dari segi materil, abii ingin segalanya perfect saat abii ingin melanjutkan sebuah hubungan ke jenjang pernikahan. Itu wajar, amii tau amii melakukan semua itu karena abii ingin membahagiakan amii. Semua itu memang sangat kita butuhkan, apalagi di era globalisasi seperti ini, dimana persaingan semakin ketat, juga mahalnya biaya hidup baik primer maupun sekunder.
Tapi sampai kapan abii ingim mewujudkan semua itu?semakin lama waktu berjalan, semakin banyak yang akan difikirkan, dan semakin mahal pula biaya hidup yang harus dikeluarkan..tidakkah abii mengerti akan hal itu.
Kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, tapi jika kita mempunyai niat yang baik untuk suatu urusan, amii yakin Allah pasti memberikan kemudahan, apalagi kita mempunyai niat untuk menyempurnakan.
Amii tak bisa menjelaskan dengan detail akanhal itu, amii takut abii akan merasa seolah amii menggurui abii atau mungkin memaksa abii, bukan-bukan itu yang amii mau, amii hanya ingin meluruskan maksud, amii akan tetap menunggu abii. Sampai abii merasa siap. Tapi amii tak mau engkau terus berfikir akan semua materil, karena amii yakin seiring berjalannya waktu kita pasti bisa mewujudkannya bersama-sama.
Banyak orang sukses pada awal ia menikah biasa-biasa saja, tapi karena mereka mau berusaha, bahu membahu dan didampingi oleh istri tercinta, akhirnya mereka bisa mewujudkan cita-citanya.
Untuk itu jangan memaksakan diri untuk segera mewujudkannya, amii tak mau abii sakit, hanya kerena bekerja dan tak mengenal waktu beristirahat.
Abii mengatakan agar amii tak perlu memikirkan dan mengkhawatikan abii, tapi amii tak bisa, karena amii tau sikap abii yang selalu merasa bisa , itu yang amii khawatirkan. Istirahat yang kurang dan tidak beraturan bisa membuat abii sakit, bagaimana bisa amii tidak memikirkan abii? Abii tau..abii adalah semangat amii, separuh dari hidup amii, ada yang kurang jika sehari saja amii tidak memikirkan dan mendengar kabar abii, bagaimana bisa amii melupakan abii jika abii sudah terpatri dalam hati amii.
Mungkin abii tak pernah tau akan hal itu, seberapa besar amii mencintaimu, mengharapkanmu tuk menjadi pendampingku. Menjadi imam untukku juga anak-anakku kelak.
Kadang amii juga merasa heran, mengapa amii begitu menyanjung abii , tak perduli akan yang lain. Abii yang terbaik, segalanya untuk amii.
Sayang amii terus berdoa untuk kita, semoga Allah memberikan kemudahan dan melimpahkan rahmatnya pada kita. Amien….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar